Toko Baju Hamil, Baju Menyusui, Baju Hamil Muslim, Baju Hamil Modis, Dress Hamil, Gamis Hamil, Celana Hamil Kerja, celana HAmil jeans, Daster Hamil, Baby Doll.

 

Layanan Buka     Senin - Sabtu    09.00 - 17.00

Sales / CS Online :
Sales

Layanan Pelanggan
Indosat : 0857 30 191 191
Simpati : 081234 86 7788
Telepon : 031 5927323
LINE : @MamaHamilButik

Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

desindra jombang
Celana jins peencil n baju hamil+mennyusui udah dtg Puas dg barangnya n Service nya Jadi nagih buat blnja lg Banyakin saleny yakkk Thanks



By Angga  Article Published 08 December 2016
Bayi Alergi ASI, Jangan Stop ASI Anda
 
Ketika timbul eksim atau bintik merah pada kulit bayi yang masih mengonsumsi ASI eksklusif, tak sedikit Moms mengira bahwa bayinya alergi terhadap ASI. Wah, bayi bisa alergi terhadap air susu ibunya sendiri, ya?
 
Bukan ASI, tapi Makanan Ibu
Ups, tunggu dulu! Tidak seperti itu pengertiannya. Banyak yang salah kaprah menganggap bahwa bintik merah yang timbul akibat si bayi terpapar atau terkena ASI secara langsung. Padahal, yang terjadi adalah bayi sensitif terhadap asupan tertentu yang dikonsumsi si ibu dan sampai ke bayi melalui ASI. Dan orang telanjur menyebut peristiwa ini sebagai alergi ASI. 
 
Menurut dr. Nanis Sacharina Sp.A, IBCLC, umumnya yang menjadi penyebab terjadinya alergi pada bayi adalah karena asupan tersebut mengandung protein, dan pelaku utamanya, yakni berkisar 50-65 persen adalah protein susu sapi. Sehingga ketika bayi mengonsumsi ASI dari ibunya, ia akan mengalami reaksi alergi. 
 
Selain protein pada susu sapi dan produk turunannya seperti mentega, keju, biskuit dan makanan lainnya yang mengandung susu sapi; telur, kacang-kacangan seperti kacang kedelai, jagung, stroberi, sitrus pada jeruk dan seafood pun bisa memberikan pengaruh pada alergi tersebut, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.
 
Gejala Alergi
Efek atau gejala ringan atau yang sering terjadi akibat alergi adalah eksim (eksema) pada kulit yang terjadi pada daerah-daerah khas atau atopi, misalnya daerah pipi saja atau di daerah-daerah lipatan saja (seperti siku dan lutut) berupa bintik-bintik kecil dan bisa juga disertai dengan warna yang memerah. 
Selain itu, terdapat gangguan juga pada saluran cerna yang bisa terjadi secara bersamaan dengan eksema pada kulit atau salah satunya. Gangguan pada saluran cerna yang terjadi itu berupa buang air besar yang berdarah dan paling banyak muncul pada usia 2-6 minggu. 
 
Umumnya gejala alergi seperti eksema dapat menghilang dalam 72-96 jam. Sedangkan untuk gejala saluran cerna seperti buang air besar berdarah akan menghilang dengan waktu yang lebih lama yaitu berkisar dua mingguan.
Sedangkan gejala berat yang terjadi adalah jika bayi tersebut sampai mengalami diare dan muntah.
 
Jangan setop ASI
Mengatasi “alergi ASI” bukanlah dengan menghentikan pemberian ASI. Sebab yang menjadi masalah bukanlah ASI-nya! Jika ASI eksklusif ini dihentikan dan diganti dengan pemberian susu formula justru akan semakin mengurangkan nilai gizi yang diterima oleh si bayi. Nilai gizi ASI adalah yang terbaik, tidak dapat digantikan oleh susu formula yang mahal sekalipun! 
 
Jadi, tetaplah terus memberikan ASI eksklusif pada bayi namun Ibu menyusui perlu melakukan pemilihan asupan untuk dikonsumsi. 
 
Bayi Alergi, Busui Diet!
Ketika memilih asupan, bukan berarti Ibu menyusui harus menghindari atau tidak mengonsumsi semua makanan yang diduga sebagai alergen (zat yang mungkin menimbulkan berbagai reaksi alergi) pada bayi, secara bersamaan! Sebab, Ibu menyusui juga membutuhkan asupan gizi yang cukup, selain juga untuk mencari tahu asupan mana yang menjadi penyebab utama alergi bayi.   
 
Jadi, harus bagaimana? Nah, Ibu menyusui dapat mengatur pemberian makanan tersebut dengan diet per dua minggu. Diet yang dimaksud adalah dengan menahan suatu makanan tertentu dan mengeluarkan salah satu jenis makanan dari daftar diet yang dilakukan oleh ibu menyusui. Asupan yang dikeluarkan dari daftar diet paling utama atau pertama kali adalah makanan yang mengandung protein susu sapi dan produk makanan turunannya. Kemudian telur, coklat dan seafood. 
 
Menahan dan mengeluarkan salah satu jenis makanan itu dilakukan dengan periode per dua minggu. Misalnya, Ibu menyusui mengeluarkan susu sapi dan produk makanan turunannya, lalu mempertahankan mengonsumsi telur selama dua minggu. Jika bayi masih tetap alergi, maka Ibu bisa melakukan sebaliknya, hingga nantinya diketahui manakah asupan yang menjadi alergennya. 
 
Untuk mengatur asupan yang dikonsumsi, Ibu menyusui dapat mengikuti asupan yang disarankan melalui piramida makanan untuk tetap memenuhi kebutuhan akan karbohidrat, protein, lemak dan lainnya. Selain itu disarankan juga bagi Ibu menyusui untuk menambah jumlah kalorinya berkisar 400-500 kalori. 
 
IG : @mamahamilbutik 
WA: 0812222 36664 / 085730191191 
TELP/SMS : 081234867788 /085730191191 
LINE : MamaHamilButik, MamaHamil
BBM: 5D07A939 /741B6099
 


Related Article