Toko Baju Hamil, Baju Menyusui, Baju Hamil Muslim, Baju Hamil Modis, Dress Hamil, Gamis Hamil, Celana Hamil Kerja, celana HAmil jeans, Daster Hamil, Baby Doll.

 

Layanan Buka     Senin - Sabtu    09.00 - 17.00

Sales / CS Online :
Sales

Layanan Pelanggan
Indosat : 0857 30 191 191
Simpati : 081234 86 7788
Telepon : 031 5927323
LINE : @MamaHamilButik

Keranjang Belanja
Keranjang belanja Anda masih kosong. Selamat berbelanja.

Rekening Pembayaran
Testimonial

desindra jombang
Celana jins peencil n baju hamil+mennyusui udah dtg Puas dg barangnya n Service nya Jadi nagih buat blnja lg Banyakin saleny yakkk Thanks



By Angga  Article Published 21 November 2016
Batik dan Kehidupan Orang Jawa
 
Batik tak pernah lepas dari kehidupan orang Jawa, sejak masih dalam kandungan ibu hingga ajal menjemput, batik selalu menyertai kehidupan manusia Jawa. Setiap pola atau corak batik tradisional selalu mengandung nilai-nilai adiluhung, terutama yang bermula dari Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Ragam hias yang menyusun polanya selalu mempunyai arti filosofi. Lebih-lebih ragam hias yang menampilkan pengaruh agama Hindu.
 
”Seperti garuda yang terdiri sawat, lar dan mirong, lidah api, pohon hayat dan sebagainya,” kata Ir Toetti T Soerjanto, Kurator Museum Batik Danar Hadi Surakarta saat menguraikan pola batik, ragam hias penyusun dan arti filosofinya di depan peserta seminar ‘Pengembangan Batik Tulis Tradisional’ yang digelar Jogja Heritage Society (JHS) belum lama ini.
 
Menurut mantan Kepala Balai Batik Yogyakarta ini, batik memiliki dua keindahan, yaitu keindahan visual dan keindahan spiritual yang ditampilkan oleh arti filosofisnya, dan ini tidak ada pada batik-batik di negara lain. Pola batik di Jawa mempunyai arti yang sakral untuk berbagai upacara, dari mitoni, kelahiran, memasuki usia dewasa, perkawinan sampai kematian.
 
Batik untuk upacara mitoni diperlukan enam macam kain batik dan satu macam kain lurik. Batik ini digunakan setelah upacara siraman yang mengawali upacara mitoni (tujuh bulan usia bayi dalam kandungan). Artinya, batik digunakan ketika anak manusia masih dalam kandungan. Calon ibu berganti busana sebanyak tujuh kali dengan pola batik berbeda. Antara lain Sido mulyo, Sido asih, Sido mukti, Sido luhur, Sido dodi.
 
Semuanya itu mengandung arti filosofis sendiri-sendiri sesuai dengan macam batik. Selain itu juga diperlukan batik babon angrem yang melambangkan kasih sayang dan kesabaran seorang ibu. Wahyu Tumurun melambangkan permohonan agar selalu mendapatkan petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT. Semen Rama sebagai perlambang agar anak yang dilahirkan nanti mempunyai budi pekerti luhur seperti yang dimiliki raja.
 
”Sedangkan kain lurik digunakan lurik pola Yuyu Sekandhang adalah lambang harapan agar si anak yang masih di dalam kandungan kelak dikaruniai rizki berlimpah, mempunyai banyak anak seperti yuyu (kepiting). Makna dari upacara mitoni ini agar calon ibu dapat melahirkan dengan mudah dan lancar, semudah pakaian berganti tujuh kali,” ujar Toetti T Soerjanto.
 
Batik juga menyertai kelahiran yang digunakan untuk alas yang disebut kopohan (basahan). Batik ini sudah lawas, milik nenek si bayi. Ini mengandung arti agar bayi kelak dikaruniai usia panjang seperti neneknya. Pola batik itupun mempunyai arti filosofi yang baik, sehingga kebaikan itu akan terbawa oleh bayi yang masih suci hingga dewasa nanti. Kain batik kopohan ini selanjutnya disimpan dan dirawat oleh orangtua bayi sebagai pusaka.
 
Instagram : @mamahamilbutik 
Whats App : 0812222 36664 / 085730191191 
TELP/SMS : 081234867788 /085730191191 
Jalur Grosir : 08564555088
LINE : MamaHamilButik, MamaHamil
BBM : 5D07A939 /741B6099
 


Related Article